Sabtu, 28 April 2012

Bagaimana Menjelaskan Bahwa Alkitab Tidak Dipalsukan?

Pendahuluan
 Banyak orang Muslim yang bersikap skeptis dan mengatakan bahwa Alkitab sudah diubah dan dipalsukan. Beberapa di antara mereka mengakui bahwa orang-orang Kristen adalah orang-orang yang sangat teratur rapih dan rajin, dan bahwa aturan sosialnya sangat adil. Tetapi mereka juga menganggap bahwa ada di antaranya, yang takut kepada Allah, sebagai orang-orang pemimpi yang di awang-awang saja, karena orang-orang Kristen itu menganggap bahwa Taurat, Mazmur dan Injil sebagai kitab yang bisa diandalkan. Hal itu bisa saja benar di masa yang lalu, kata orang Muslim itu, tetapi edisi semua kitab itu di masa sekarang sudah diubah-ubah. Semua orang Kristen dianggap menjadi korban dari kekeliruan yang sangat besar, yang percaya kepada dongeng semata.
Dari mana asalnya sikap skeptis orang Muslim terhadap ke-66 kitab di dalam Allkitab? Apa argumentasi yang mereka ajukan untuk mendukung tuduhan mereka mengenai pemalsuan Alkitab?

Serangan Al-Qur’an terhadap Taurat
Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan itu bisa kita lihat di sepuluh ayat di dalam Al-Qur'an. Semua itu mendasari sikap skeptis orang Muslim terhadap Alkitab. Ada seorang penatua Yahudi di Medina yang dituduh melakukan perzinahan. Orang-orang Yahudi tidak mau menyampaikan kepada orang Muslim ayat-ayat tentang hukuman bagi perzinahan di dalam Taurat untuk menyelamatkan penatua mereka ini dari hukuman rajam. Karena itu, di beberapa bagian Al-Qur'annya, Muhammad membuat Allah menantang orang-orang Yahudi yang tidak menjelaskan rahasia dan peraturan Taurat mereka kepada orang Muslim:


Janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah. (Surat al-Baqarah 2:41)
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (Surat al-Baqarah 2:42)
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui? (Surat al-Baqarah 2:75)
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Alkitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. (Surat al-Baqarah 2:79)
Dan sesungguhnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (Surat al-Baqarah 2:146)

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya? (Surat Al 'Imran 3:71)
Sesungguhnya di antara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Alkitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Alkitab, padahal ia bukan dari Alkitab. (Surat Al 'Imran 3:78)
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya (sehingga kemudian memiliki pemahaman yang berbeda). (Surat an-Nisa 4:46)
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merobah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya. (Surat al-Ma'ida 5:13)
Dan di antara orang-orang yang mengatakan: "Sesung-guhnya kami ini orang-orang Nasrani", ada yang telah kami ambil perjanjian mereka, tetapi mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diberi peringatan dengannya. (Surat al-Ma'ida 5:14)
Kalau anda menganalisa 10 bagian ayat-ayat Al-Qur'an di dalam bahasa Arabnya, anda akan menemukan delapan fakta sejarah:
Tidak “semua” orang Yahudi, tetapi hanya sekelompok kecil di antara mereka, yang berusaha menyesatkan Muhammad (Surat al-Baqarah 2:75,146; Al 'Imran 3:78).
Mereka sebenarnya orang-orang yang mendapat tuntunan yang benar (Surat an-Nisa 4:46), tetapi mereka menutupi sebagian dari hukum mereka dengan kata-kata yang kosong untuk menyembunyikan keadilan (Surat al-Baqarah 2:42; Al 'Imran 3:71).
Mereka tidak menerjemahkan semua teks Alkitab secara terbuka kepada Muhammad dan tidak mengatakan semua yang ada di dalam kitab mereka, kecuali kalau Muhammad bertanya terlebih dahulu (Surat al-Baqarah 2:41, 79).
Mereka menyembunyikan beberapa perintah darinya, khususnya yang akan membahayakan mereka dalam hal-hal khusus yang menyangkut Muhammad dengan orang Muslimnya (Surat al-Baqarah 2:42,146; Al 'Imran 3:71).
Mereka mengubah huruf hidup atau pengucapan-pengucapan yang penting dari beberapa kata yang kemudian mengubah makna kata itu (Surat al-Baqarah 2:75; al-Nisa 4:46; al-Ma'ida 5,13).
Mereka membolak-balikkan lidah ketika mengucapkan beberapa ayat tertentu dari Taurat sehingga tidak ada orang yang tahu apa yang sebenarnya mereka katakan (Surat Al 'Imran 3:78).
Mereka menulis buku suci dengan tangan mereka sendiri tetapi berpura-pura bahwa itu langsung berasal dari Allah (Surat al-Baqarah 2: 79).
Mereka melupakan beberapa ayat dari kita suci mereka, yang, sebagai wahyu, seharusnya mereka ingat (Surat al-Ma'ida 5:13). Muhammad juga menuduh orang Kristen akan kesesatan ini terhadap Allah dan wahyu-Nya (Surat al-Ma'ida 5:13).
Dari tuduhan di dalam Al-Qur'an ini anda bisa melihat bahwa hanya sebagian kecil orang-orang Yahudi di Medinah bermasalah dengan Muhammad. Kebanyakan orang Yahudi tidak dituduh demikian di dalam Al-Qur'an. Mereka tidak memalsukan dan juga tidak menyembunyikan kitab suci mereka. Orang-orang Yahudi di mana pun memiliki Taurat yang asli, yang orisinil sampai saat ini.
Di dalam Al-Qur'an tidak ada penyebutan bahwa seluruh isi Taurat diselewengkan dari awal sampai akhirnya. Muhammad mengatakan bahwa hanya beberapa kata tertentu yang ditutupi, diucapkan secara salah atau dibunyikan dengan huruf hidup yang berbeda. Integritas Taurat secara keseluruhan tidak dipertanyakan di bagian manapun di dalam Al-Qur'an!
Namun demikian, orang Yahudi, sama seperti orang Kristen, tidak bisa menyebutkan ayat-ayat yang panjang dari Alkitab di luar kepala, tetapi mereka bisa memberikan pandangan pribadi, pengalaman atau tafsiran terhadap ayat-ayat Alkitab. Bagi orang Muslim belajar menghafalkan firman yang diwahyukan merupakan bukti kasih mereka kepada Allah dan wahyu-Nya. Mereka tidak mendapatkan bentuk kasih yang seperti ini pada orang Yahudi dan orang Kristen. Muhammad ingin mendengar teks yang persis sama dari Wahyu tersebut diucapkan melalui penghafalan; ia tidak ingin belajar mendengar apa pandangan orang-orang mengenai Wahyu tersebut.
Analisa singkat tentang ayat-ayat Al-Qur'an di atas menunjukkan bahwa orang Muslim tanpa alasan telah mencurigai bahwa seluruh Taurat telah dipalsukan. Selain itu, Al-Qur'an tidak pernah menyebutkan di bagian manapun bahwa Injil sudah dipalsukan atau diubah, karena Muhammad sangat menghargai orang-orang Kristen dan mengetahui betapa mereka dapat dipercayai dan betapa mereka mengasihi kebenaran.

Penyelidikan orang Muslim akan nama Muhammad di dalam Alkitab
Setelah ada beberapa orang Yahudi dan orang Kristen Arab yang memeluk agama Islam, mulai muncul pemikiran di antara mereka bahwa Muhammad, yang menyebut dirinya sebagai yang memeteraikan semua nabi, pastilah dinubuatkan juga di dalam Alkitab. Muhammad menuliskan bahwa Isa mengatakan di dalam Al-Qur'an bahwa seorang utusan yang bernama Ahmad akan datang setelah dirinya (Surat as-Saff 61:6).
Sejak itu, orang Muslim curiga bahwa orang Yahudi dan orang Kristen sudah menghapuskan nama Muhammad atau sinonimnya Ahmad dari kitab suci mereka.
Kemudian terjadilah penelitian yang sangat gencar terhadap nubuat-nubuat yang ada di dalam Alkitab, untuk melihat kalau-kalau ada yang menunjuk kepada kedatangan Muhammad. Terjadi spekulasi yang tidak terhitung berapa kali jumlahnya dan juga muncul karya-karya tulis yang menyebutkan kepercayaan orang Muslim bahwa Muhammad pastilah disebutkan di dalam Alkitab. Mereka sering kali mengutip Ulangan 18:15, 18. Di sana Musa mengatakan, Seorang nabi dari tengah-tengahmu, dari antara saudara-saudaramu, sama seperti aku, akan dibangkitkan bagimu oleh TUHAN, Allahmu; dialah yang harus kamu dengarkan! Orang Muslim menyatakan dengan sangat bersemangat, “Nabi yang dijanjikan ini pasti adalah Muhammad.” Tetapi mereka tidak memperhatikan bahwa nabi ini haruslah muncul dari antara bangsa Israel. Siapa pun yang bertanya kepada mereka apakah mereka mau mengakui bahwa Muhammad haruslah berasal dari bangsa Israel atau orang Yahudi pastilah akan mendengar jawaban yang sangat tegas, “Tidak!”

Dari kitab Injil mereka berulangkali mengutip janji yang sangat terkenal yang dikatakan oleh Yesus, Penolong/ Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu (Yohanes 14:16, 17, 26). Peneliti Muslim berpikir bahwa Penolong yang dijanjikan ini pastilah Muhammad! Mereka menyelidiki kata Yunani yang dipakai yaitu parakletos (penolong), dan segera mengganti huruf hidupnya dan mengubah parakletos menjadi perikletos, yang artinya “yang terpuji” (Muhammad). Kalau mereka menuduh orang Kristen mengganti nama Muhammad menjadi parakletos, kita bisa menunjukkan kepada mereka bahwa justru mereka yang mengubah huruf hidupnya! Dan lagi, kalau anda bertanya kepada kaum yang menunggu-nunggu nabi yang dijanjikan itu apakah mereka setuju bahwa Muhammad diutus oleh “Kristus” sebagai hamba-Nya, anda akan mendengar penyangkalan yang sangat keras. (Di dalam Yohanes 14:17 dikatakan bahwa Yesus telah mengutus Penolong). Pertanyaan itu bisa menggugurkan pernyataan orang Muslim.

Keputusan yang bersifat anti Alkitab
Ketika para ahli dan penafsir Al-Qur'an di dalam Islam membandingkan Alkitab dengan Al-Qur'an berabad-abad setelah kematian Muhammad, mereka menemukan bahwa tidak ada satu kalimat pun yang sungguh-sungguh sama di antara kedua kitab itu baik dalam format maupun isinya. Mereka menjadi sangat terganggu karena kenyataan ini dan hal itu membuat mereka membuat sebuah keputusan yang sangat primitif, tetapi juga sangat cerdik. Mereka menetapkan bahwa semua perbedaan antara Alkitab dengan Al-Qur'an pastilah terjadi karena adanya pemalsuan di dalam Alkitab. Dengan cara ini Al-Qur'an dibuat menjadi standar untuk mengukur dan menghakimi Alkitab. Pada dasarnya orang Muslim percaya bahwa kedua kitab itu sumbernya adalah dari buku asli yang ada di surga yang diwartakan dengan menggunakan inspirasi verbal. Akan tetapi, menurut pandangan mereka perbedaan yang tidak mungkin terjembatani antara ketiga buku ini membuktikan tentang pemalsuan Taurat dan Injil. Kita harus menyadari bahwa dengan mengambil kesimpulan yang demikian Islam membuktikan dirinya sebagai sebuah semangat anti Alkitab yang menawan kebanyakan orang Muslim dalam belenggu kolektif.

Serangan beracun dari Deedat
Serangan Islam keempat terhadap Alkitab datang dari sebuah kelompok yang dipimpin Deedat, seorang Muslim India dari Afrika Selatan. Ia sudah mengumpulkan banyak sekali argumentasi yang bukan berasal dari Al-Qur'an dari kaum ateis, komunis, materialistis, dan teolog liberal dari Eropa, yang nampaknya membuktikan kesalahan-kesalahan di dalam Alkitab. Pernyataan anti Alkitabnya sering kali bertentangan sendiri dengan apa yang dikatakan Al-Qur'an. Meskipun argumentasinya memiliki dasar yang lemah, ia mendapat dukungan keuangan dari beberapa pemerintahan negara Islam kaya minyak, karena ia bisa menggoyahkan keyakinan dari begitu banyak orang Kristen dan Muslim terhadap Alkitab di berbagai penjuru dunia.
Di antara tuduhan yang disampaikan Deedat adalah pernyataan bahwa Kristus tidak mengatakan kebenaran ketika Dia bernubuat: Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam (Matius 12:40; Markus 8:11-12; Lukas 11:29-32). Dengan penuh kedengkian, Deedat menunjukkan kenyataan bahwa Kristus di dalam kubur-Nya hanya sejak Jumat sore, sebelum matahari terbenam, sampai hari Minggu, sebelum fajar. Ia mengatakan bahwa kenyataannya Yesus hanya satu setengah hari dan dua malam terbaring di dalam kubur-Nya, dan bukan tiga hari tiga malam! Dari kenyataan ini ia menarik kesimpulan bahwa Yesus bukanlah nabi yang bisa dipercaya!
Banyak orang Kristen yang tidak tahu bagaimana menjawab argumentasi Deedat ini dan pergi dengan kepala tertunduk. Tetapi dalam hal ini kita bisa menjawab, bahwa menurut tradisi Yahudi, apa saja yang terjadi pada suatu saat dalam satu hari dianggap terjadi dalam sepanjang hari itu. Karena Yesus dikuburkan pada hari Jumat, sepanjang hari Jumat itu dikatakan sebagai hari kematian-Nya. Demikian juga kebangkitan-Nya terjadi di sepanjang hari pertama minggu itu.
Dengan trik yang demikian Deedat berusaha untuk mempertanyakan salib dan kebangkitan Kristus serta Injil-Nya. Ia sudah mengumpulkan banyak pernyataan kritis tentang teks Alkitab, yang ditulis oleh para teolog liberal, dan berusaha untuk membuktikan dengan dukungan pernyataan itu bahwa bahkan para ahli Kristen sendiri tidak percaya pada kesempurnaan Alkitab. Serangan beracun dari musuh Kristus ini sudah diterbitkan dan didistribusikan dalam jumlah jutaan di Afrika, Asia, dan benua-benua yang lainnya. Para muridnya sudah bekerja keras selama dua generasi dalam banyak bahasa dengan pengaruh yang cukup kuat.

Keyakinan yang goyah akan kebenaran Alkitab
Kita tidak perlu terkejut bahwa bukan hanya orang Kristen, tetapi juga bagi orang Muslim, keyakinan mereka terhadap Alkitab sudah goyah. Siapa pun yang berusaha untuk menjelaskan keselamatan dari Kristus kepada para pengikut Muhammad harus terlebih dahulu menemukan jalan untuk memantapkan keyakinan terhadap Alkitab di dalam diri mereka, kalau tidak semua usaha bisa jadi akan menjadi sia-sia. Lagu yang ditulis oleh Nikolaus Ludwig, Earl of Zin­zendorf (1700-1760), juga tepat diterapkan dalam pelayanan misi di antara orang Muslim:



Kalau anda berusaha menjelaskan kebenaran Alkitab kepada orang Muslim, anda akan menemukan lima sumber penuh dengan argumentasi yang dapat mendukung usaha anda:

1. Kesaksian Perjanjian Lama terhadap kebenaran pernyataan firman Allah;
2. Pernyataan Yesus Kristus tentang keaslian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru;
3. Berbagai sumber sekular lainnya yang bisa menegaskan kebenaran Alkitab;
4. Ayat-ayat positif di dalam Al-Qur'an mengenai tidak rusaknya Taurat dan keaslian Injil;
5. Pengalaman pribadi kita mengenai kuasa firman Allah.

1. Kesaksian Perjanjian Lama Tentang Keaslian Taurat Dan Kitab Para Nabi
Siapa pun yang ingin menjelaskan kepada orang Muslim bahwa Allah akan menjaga firman-Nya perlu mengingat ayat ini dan membagikannya kepada sahabat-sahabat Muslimnya:
Yeremia 1:11-12: “Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." Lalu firman TUHAN kepadaku: "Baik penglihatanmu, sebab Aku siap sedia untuk melaksanakan firman-Ku.”
Nabi ini diberi janji, ia mendapatkan jaminan akan keabsahan dan keaslian firman Allah, karena TUHAN sendiri menjaga firman-Nya. Dia yang Kekal tidak pernah tertidur atau terlelap, tetapi bersiap sedia mengawasi umat-Nya dan mencegah mereka menyimpangkan firman-Nya. Yang Allah maksudkan di sini bukan hanya firman-Nya saja, tetapi juga tindakan dan efek dari firman itu. TUHAN siap sedia mengawasi bahwa semuanya itu akan terlaksana. Tidak ada yang bisa mencegah Tuhan yang mahakuasa melakukan apa yang difirmankan-Nya.
Dalam Ulangan 4:2 kita membaca apa yang dikatakan oleh Musa: Janganlah kamu menambahi apa yang kuperintahkan kepadamu dan janganlah kamu menguranginya, dengan demikian kamu berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu.
Siapa yang akan berani, baik sengaja maupun tidak, untuk menyimpangkan perintah dan janji Allah, menambahkan ide sendiri atau menghapuskan larangan yang tidak disukainya? Tuhan sendiri memerintahkan melalui Musa untuk memelihara firman-Nya agar tetap utuh dan tidak berubah, untuk menghafalkannya dan bertindak sesuai dengan kebenaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Alkitab mempertahankan sendiri kebenarannya. Di dalam Islam perkataan sang nabi dianggap sebagai firman Allah secara langsung! Tidak ada perbedaan di antara keduanya. Seorang utusan Allah dianggap memiliki kuasa yang sangat besar. Orang Muslim sering memandang Taurat sebagai keseluruhan Perjanjian Lama.
Dalam Amsal 30:5-6 kita membaca: Semua firman Allah adalah murni. Ia adalah perisai bagi orang-orang yang berlindung pada-Nya. Jangan menambahi firman-Nya, supaya engkau tidak ditegur-Nya dan dianggap pendusta.

Mazmur 19:8-9, berisi kesaksian Daud, bagaimana ia mengalami kebenaran dari firman yang tidak terubahkan dari Tuhan di dalam kehidupannya:
Taurat TUHAN itu sempurna,
menyegarkan jiwa;
peraturan TUHAN itu teguh,
memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman.
Titah TUHAN itu tepat,
menyukakan hati;
perintah TUHAN itu murni,
membuat mata bercahaya.

2. Ayat-ayat yang menegaskan keaslian Wahyu di dalam Perjanjian Baru
Matius 5:17-18 menawarkan kesaksian yang sangat kuat dan memberikan bimbingan dari Yesus Kristus yang menjelaskan posisi-Nya sehubungan dengan wahyu di dalam Perjanjian Lama: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.”
Dengan pernyataan yang sangat mendasar ini Anak Allah menjamin keaslian Perjanjian Lama. Yesus menyangkal kalau Dia menggantikan wahyu yang lama dengan yang baru atau bahkan dengan yang lebih baik, seperti Al-Qur'an, yang di dalamnya mengandung 240 ayat yang sudah diubah dan tidak lagi sah.
Akan tetapi, Yesus Kristus, berbicara mengenai penggenapan hukum Taurat dan kitab Para Nabi melalui pengajaran-Nya, kehidupan-Nya, mujizat-Nya, kematian-Nya, kebangkitan-Nya, curahan Roh Kudus dan kedatangan-Nya yang kedua kali. Tuhan Yesus menghormati, memperdalam dan menjalankan kehidupan Wahyu di dalam Perjanjian Lama sebagaimana Kitab-Nya.
Yesus menjamin keaslian semua kitab di dalam Perjanjian Lama sampai akhir jaman sehingga bahkan orang Muslim sekalipun bisa yakin bahwa satu huruf yang paling kecil, atau satu titik yang paling kecil sekalipun tidak akan hilang, tetapi akan digenapi secara tepat. Inilah pernyataan yang berkuasa dari Yesus Kristus yang menghilangkan tuduhan dari Muhammad dan para pengikutnya.
Matius 24:35 menawarkan perkataan yang lain dari Yesus Kristus yang menjamin kebenaran dan kekekalan Injil-Nya dan juga seluruh kitab di dalam Perjanjian Baru: Langit dan bumi akan lenyap, tetapi firman-Ku tidak akan berlalu.
Yesus bukanlah seorang optimistis atau pesimistis, tetapi seorang yang realistis. Dia meyakinkan kita bahwa semua rancangan manusia untuk memperbaiki dunia ini dan memelihara ciptaan akan sia-sia, karena langit dan bumi kita yang kecil ini akan berlalu. Tetapi karena Tuhan kita hidup dan firman-Nya penuh dengan roh dan kuasa, Injil-Nya tidak akan berlalu bahkan ketika semua yang ada hancur dan lenyap. Dia mendorong kita untuk percaya dan berharap ketika Dia mengatakan: Bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga! (Lukas 10:20). Semua orang yang sudah dilahirkan kembali dengan firman-Nya dan menerima Roh Kudus-Nya akan ikut ambil bagian di dalam kehidupan kekal.
Lukas 1:1-4 menunjukkan kepada kita bagaimana hati-hati dan tepatnya para penginjil menyampaikan tentang perkataan dan tindakan dari Yesus Kristus. Tabib dari Yunani yang bernama Lukas itu menjelaskan bagaimana ia menyusun kitabnya: Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman. Karena itu, setelah aku menyelidiki segala peristiwa itu dengan seksama dari asal mulanya, aku mengambil keputusan untuk membukukannya dengan teratur bagimu, supaya engkau dapat mengetahui, bahwa segala sesuatu yang diajarkan kepadamu sungguh benar.
Kitab-kitab Injil tidak turun dari langit sebagai sebuah kitab yang lengkap, seperti yang dibayangkan beberapa orang Muslim mengenai pewahyuan Al-Qur'an. Dokter Lukas, tabib Yunani, yang percaya pada Kristus, bertanya kepada banyak saksi mata dan orang-orang yang bertanggungjawab yang dipilih oleh para rasul untuk mengumpulkan dan menuliskan perkataan Yesus. Mereka disebut sebagai para hamba firman.
Lukas, sang tabib, ingin tahu bagaimana anak dara Maria bisa memiliki anak tanpa seorang suami! Karena itu ia dengan hormat bertanya kepadanya tentang kejadian itu. Jadi kemungkinan Maria yang menjelaskan kepadanya bagaimana malaikat Gabriel menyatakan diri kepada Zakarias dan memberitahukan mengenai kelahiran Yohanes Pembaptis (Lukas 1:5-24). Maria juga memberitahukan kepada Lukas mengenai penampakan penghulu malaikat kepadanya di Nazaret (Lukas 1:25-26) dan menjelaskan secara terperinci kepadanya mengenai kisah Natal (Lukas 2:1-21). Ia juga menjelaskan kepada Lukas tentang penyerahan Yesus di Bait Allah (Lukas 2:22-40) dan mengenai kunjungan Yesus yang berusia dua belas tahun ke Bait Allah (Lukas 2:41-52).
Tabib Yunani ini mengumpulkan beberapa perumpamaan dan laporan mengenai Yesus yang tidak ditulis dalam injil-injil yang lain: Domba yang hilang (Lukas 15:1-7), anak yang hilang (Lukas 15:11-32), orang Samaria yang baik hati (Lukas 10:25-37), orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31) dan laporan mengenai sepuluh orang kusta yang disembuhkan (Lukas 17:11-19). Lukas mendengar kisah mengenai perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Lukas 18:9-14), ia membuat catatan mengenai Yesus mengunjungi Zakeus (Lukas 19:1-10) dan mengenai air mata yang dicurahkan Yesus bagi Yerusalem (Lukas 19:41-44). Lukas juga memasukkan kisah tentang Maria dan Marta (Lukas 10:38-42), mencantumkan juga nama-nama murid wanita yang mengikuti Yesus (Lukas 8:1-3), dan mungkin mendengar dari mereka tiga kata yang sangat unik yang dikatakan oleh Yesus di kayu salib (Lukas 23:34, 43, 46).
Lukas menanyakan mengenai detail dari pertemuan Yesus yang sudah bangkit dengan dua orang murid di Emmaus (Lukas 24:13-35) dan detail lain mengenai Yesus yang bangkit yang mengajar murid-murid-Nya yang sangat terkejut itu tentang ayat-ayat dari Perjanjian Lama (Lukas 24:44-49). Ia sendiri juga menuliskan mengenai kenaikan Yesus (Lukas 24:50-52; Kisah 1:1-14) dan pencurahan Roh Kudus (Kisah 2:1-47).
Tanpa Lukas, sang tabib itu, kita tidak akan tahu banyak teks kunci dari Injil. Ia menuliskan kedua bukunya itu untuk satu pribadi, Teofilus, seorang gubernur Roma yang sudah menjadi Kristen di Antiokhia. Tuhan yang bangkit, melalui Roh Kudus-Nya, menuntun Lukas, seorang “asing”, untuk mengumpulkan fakta secara hati-hati dan menuliskan semuanya dalam urutan yang bisa dipertanggungjawabkan. Injil yang ditulisnya didukung, ditulis dan dimeteraikan oleh Roh Kudus. Yesus sendiri tidak pernah menuliskan sebuah buku meskipun ia bisa membaca dan menulis huruf Ibrani. Tetapi saksi-saksi mata yang menyaksikan-Nya memberikan kesaksian yang kuat dan setia mengenai apa yang mereka lihat dan dengar.
Yohanes 1:14 memberikan pertolongan yang unik ketika kita berbicara kepada orang Muslim: Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.
Yohanes memahami bahwa Yesus bukan hanya memberitakan firman Tuhan, tetapi Dia sendirilah Firman itu! Tidak ada perbedaan antara firman-Nya dengan karya-Nya. Jadi, Dia tetap tidak berdosa. Firman Tuhan mencipta, menyembuhkan, mengampuni, menghibur dan memperbaharui orang-orang percaya. Di dalam Yesus kehendak Allah dan kuasa-Nya menjadi nyata. Inkarnasi firman Tuhan di dalam Yesus menyimpulkan semua firman Allah di dalam diri-Nya.

Yohanes 17:17 menyatakan sebuah rahasia mengenai doa syafaat keimaman Yesus. Di sini Dia menjelaskan dengan sangat jelas definisi dari keaslian Alkitab dalam kalimat yang sangat singkat: Firman-Mu adalah kebenaran! Kalimat ini jauh melebihi pengajaran doktrin, khotbah, atau kesaksian. Bahkan, Yesus menjelaskan realitas dan kebenaran firman Allah dalam doa-dialog-Nya dengan Bapa di surga. Bagaimanapun kritik terhadap Alkitab, teolog liberal, orang Muslim anti Kristen atau komunis materialistis berusaha melawan Alkitab akan dihancurkan di hadapan realitas ilahi itu. Apa saja yang mereka ajukan sebagai bukti, kepalsuan atau implikasinya akan dikalahkan oleh kesaksian dari Anak kepada Bapa-Nya: Firman-Mu adalah kebenaran!
Wahyu 22:18-19 memberikan peringatan keras yang cocok untuk pikiran orang Muslim: Aku bersaksi kepada setiap orang yang mendengar perkataan-perkataan nubuat dari kitab ini: "Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis di dalam kitab ini. Dan jikalau seorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”

Di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru anda bisa menemukan lebih banyak ayat yang membuktikan kebenaran dan keaslian Alkitab. Kita tidak boleh membaca Alkitab dengan mata Kristen kita saja, tetapi perlu juga memahami bagaimana ayat-ayat itu berbicara kepada orang Muslim. Alkitab membela dan membenarkan dirinya. Kita harus berlatih untuk mendengarkan suara Alkitab, untuk bisa menawarkan kebenaran kepada orang Muslim dengan kasih.

3. Argumentasi dari logika manusia dan gulungan Qumran terhadap keaslian Alkitab
Orang Muslim dalam jumlah yang berkembang saat ini percaya kepada ilmu pengetahuan. Mereka meninggalkan pola pemikiran jaman Al-Qur'an. Kadangkala sangat mungkin untuk berbicara secara obyektif dengan mereka dan untuk mendorong mereka berpikir kritis. Pertanyaan yang biasa disebut “pertanyaan-W” bisa menolong di sini. Pertanyaan-pertanyaan itu adalah:
Who (siapa) yang memalsukan Alkitab? Orang Yahudi ataukah orang Kristen? Kebanyakan mereka akan menjawab: orang-orang Yahudi! Kita bisa mengatakan: Apakah anda berpikir orang Kristen akan diam saja kalau orang Yahudi mengubah Taurat dan kitab para nabi? Kenyataan tentang adanya dua masyarakat beragama yang berbeda menjadikan mustahil bagi salah satu dari kelompok tersebut untuk mengubah kitab apapun yang ada di dalam Perjanjian Lama baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka. Kalau misalnya orang Kristen yang dituduh sudah mengubah Taurat, anda bisa menjawab bahwa orang Yahudi ortodoks akan memulai perlawanan yang sangat keras di seluruh dunia untuk melawan kesesatan yang demikian. Orang-orang Yahudi yang taat akan siap berperang bahkan melawan sesama orang Yahudi yang menjadi liberal, demi usaha mempertahankan status kata demi kata di dalam firman Tuhan mereka.
When (kapan) Taurat dipalsukan? Kalau jawabannya “sebelum” Muhammad, anda bisa menanyakan mengapa Muhammad menyebutkan nama Musa 136 kali di dalam Al-Qur'an, Abraham 69 kali, Iblis 68 kali (Shaitan), Israel 47 kali, Salomo 17 kali dan Daud 16 kali. Al-Qur'an memastikan kebenaran Taurat secara langsung atau tidak langsung dan pewahyuannya oleh Allah mereka. Di dalam 15 tahun pertama kehidupan keagamaannya, Muhammad menerima Taurat sebagai kebenaran ilahi tanpa mempertanyakannya. Namun ia tidak bisa membaca huruf Ibrani dan bersandar kepada para penerjemah lisan yang harus menerjemahkan teks itu ke dalam bahasa Arab untuknya. Mereka tidak memberitahukan kepadanya teks asli dari Alkitab tetapi kebanyakan hanya mengenai kisah dan aturan-aturan dari Mishna dan Talmud.
Kalau seorang Muslim mengatakan bahwa Taurat dipalsukan hanya pada tahun-tahun terakhir kehidupan Muhammad di Medinah, anda bisa menjawab bahwa pada saat itu Alkitab sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa: Yunani, Latin, Armenia, Syria, Kasdim, Koptik, Abyssinia dan bahasa-bahasa lainnya. Di dalam bahasa-bahasa itu ada ratusan, kalau tidak ribuan, naskah yang ditulis tangan. Siapa yang sanggup mengumpulkan semua Alkitab di dalam semua terjemahan itu agar bisa mengubah beberapa kata di dalam beberapa halaman tertentu? Karena Alkitab sudah tersebar begitu luas di jaman Muhammad, maka sangatlah mustahil untuk bisa memalsukan teks itu.
What dan which (Apa dan yang mana) pasal-pasal di dalam Alkitab yang dipalsukan? Tidak ada seorang Muslimpun yang tahu jawaban yang memuaskan kepada pertanyaan ini! Kebanyakan dari mereka tidak tahu isi Taurat. Karena itu kita bisa menunjukkan kepada mereka bahwa kita masih memiliki salinan dari Alkitab yang asli dan akan siap untuk secara teliti menguji setiap naskah yang baru ditemukan bersama-sama dengan orang Muslim. Akan tetapi, selama hal ini belum terjadi, kita memiliki hak untuk terus yakin bahwa Alkitab kita itu asli. Bukan kewajiban kita, yang dituduh, untuk membuktikan kebenaran dan kesahihannya, bukan, tetapi kewajiban para penuduh kita, orang Muslim untuk membuktikan hal yang sebaliknya – yang tidak bisa mereka lakukan. Sampai mereka bisa membawa Alkitab yang lebih asli, kita masih bisa menawarkan kepada mereka sebuah salinan dari teks yang paling dijaga keasliannya.
Mr. Deedat berusaha untuk menyerang Alkitab dengan memakai argumentasi yang merusak, yang diberikan oleh para atheis dari Eropa di abad ke 19. Tetapi kebanyakan argumentasinya sudah ketinggalan jaman secara ilmiah. Namun demikian, perlu juga bagi para missionaris yang melayani di antara orang Muslim untuk membaca buku Deedat dan buku jawabannya dari seorang Kristen, Mr. Gilchrist, seorang pengacara dari Afrika Selatan, untuk memberikan jawaban yang cocok dan menolong.
Beberapa ahli dari kalangan Muslim menunjuk kepada berbagai catatan kaki (footnote) di dalam Perjanjian Baru berbahasa Yunani, yang menunjukkan adanya perbedaan dari beberapa naskah asli. Dengan sinis mereka memakai perbedaan-perbedaan itu untuk menegaskan tuduhan mereka. Tetapi justru banyaknya catatan kaki itu justru menunjukkan kebenaran, keteguhan dan ketelitian para peneliti dari berbagai generasi, teolog dan linguis yang tidak membuat sebuah teks asli yang standar, tetapi, untuk mempertahankan kebenaran, terus menuliskan perbedaannya sekalipun. Tidak ada buku di dunia ini yang sudah diverifikasi selengkap Perjanjian Baru yang memiliki 1500 naskah yang masih ada.
Dengan Al-Qur'an keadaannya sangat bertolak belakang! Ketika Muhammad meninggal, ada beberapa naskah asli yang saling berbeda dari Al-Qur'an yang menunjukkan adanya perbedaan yang tidak bisa dijembatani, sehingga argumentasi dan pertengkaran mulai terjadi di antara pasukan-pasukan beberapa kalifah. Kalifah Usman kemudian memerintahkan Zaid bin Thabit untuk mengedit sebuah Al-Qur'an standar dan kemudian membakar naskah asli yang lainnya!! Orang Muslim di jaman ini tidak lagi memiliki salinan Al-Qur'an dari Muhammad, hanya salinan dari Al-Qur'an yang diedit oleh Usman. Kaum Shiah berulangkali mengatakan – dan beberapa di antara mereka masih mengatakan hal yang sama sampai saat ini – bahwa Al-Qur'an versi Usman sudah dipalsukan dan diubah.

Kitab Yesaya dalam gulungan Qumran
Gulungan Qumran, yang ditemukan oleh orang-orang Bedouin di dekat Laut Mati, secara khusus menjadi sangat penting untuk menegaskan keaslian teks Alkitab. Di antara gulungan itu terdapat gulungan kitab nabi Yesaya yang secara sangat luar biasa tersimpan dengan aman. Para ilmuwan menganalisa gulungan ini dan menemukan bahwa gulungan itu kemungkinan dibuat sekitar 150 sampai 100 tahun sebelum Kristus. Sebelum gulungan itu ditemukan, naskah Taurat yang tertua yang ditemukan adalah yang dibuat sekitar tahun 875 M.
Setelah penemuan gulungan kitab Yesaya di Qumran, tiba-tiba saja ada kesempatan untuk menguji apakah secara kebetulan terjadi kesalahan dalam usaha penyalinan yang berlangsung sudah 1000 tahun, atau bahkan apakah ada usaha pemalsuan yang sengaja sudah dilakukan. Tentu saja hal itu termasuk juga yang berasal dari jaman Muhammad dan masa lahirnya Islam, supaya tuduhan mereka mengenai pemalsuan bisa dijawab secara pasti.
Penyalin membuat beberapa kesalahan kecil ketika menyalin gulungan kitab Yesaya. Setiap kesalahan diberi tanda di dalam gulungan itu dengan menggunakan tiga titik di di bawah huruf itu. Lalu huruf yang benar dituliskan di atasnya. Sama sekali tidak dilakukan penghapusan terhadap teks. Semuanya nampak jelas dan bisa dilihat semua orang. Di akhir penelitian itu semua huruf di semua gulungan yang asli dan yang salinan dihitung sesering mungkin sampai semua perbedaan yang ada tidak tersisa lagi! Gulungan kitab nabi Yesaya dari gua Qumran bisa mempermalukan setiap Muslim yang mengasihi kebenaran.
Dalam semua diskusi mengenai keaslian Alkitab sangat penting untuk tidak melupakan bahwa tidak ada satupun bagian di dalam Al-Qur'an yang mengatakan bahwa Injil sudah dipalsukan. Muhammad menghargai orang-orang Kristen dan tahu bahwa mereka tidak akan berdusta atau mengakalinya. Namun, argumentasi ini tidak boleh diajukan secara langsung, mungkin lebih baik dalam bentuk pertanyaan, untuk tidak mempermalukan orang Muslim itu.

4. Bagaimana Al-Qur'an menyaksikan mengenai keaslian Alkitab?
Pada awalnya, Muhammad menunjukkan penghargaan yang tinggi kepada orang Yahudi dan Kristen karena mereka memiliki kitab suci. Ia menerima kesaksian lisan mereka, yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, dan bahkan mencantumkan kutipannya di dalam Al-Qur'annya. Pendiri Islam tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk membaca Taurat dan Injil di dalam bahasa ibunya, karena kitab-kitab itu belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Hanya setelah Muhammad membangun negara agamanya di Medinah dan mengusahakan adanya pengakuan, persetujuan dan ketundukan dari orang-orang Yahudi dan Kristen, ia memulai serangan verbalnya kepada mereka, karena mereka terus berusaha memisahkan diri. Karena mereka tidak mengakuinya sebagai nabi, ia memerangi mereka, memburu mereka dan membunuh orang-orang Yahudi. Orang-orang Kristen diperlakukan secara lebih lembut pada awalnya karena kerajaan Abyssinia memberikan suaka kepada orang Muslim ketika mereka mengalami penganiayaan.
Sejak masa ketika Muhammad berusaha membawa orang-orang Yahudi dan Kristen kepada Islam, ada banyak ayat yang positif di dalam Al-Qur'an, yang bisa digunakan untuk menunjukkan kepada orang Muslim bahwa Muhammad sendiri menegaskan kesempurnaan Alkitab.
Kita menemukan beberapa ayat yang demikian di Surat al-Ma'ida. Orang-orang Yahudi di Medinah menggoda Muhammad, walikota sekaligus hakim di kota itu, untuk menghakimi sebuah kasus perzinahan yang sangat sulit yang terjadi di daerah itu. Tetapi Muhammad, yang tidak bisa membaca sendiri Taurat, merasa ada jebakan yang sedang menantinya yang bisa membuatnya menjadi nampak bodoh atau bahkan memungkinkan dia menjadi sasaran pembalasan dendam dari sebuah kaum tertentu (Surat al-Ma'ida 5:42). Karena itu ia mengembalikan kasus itu kepada para pemimpin Yahudi, dengan alasan yang menarik dan cukup tepat (Surat al-Ma'ida 5:43-45):
43 Dan bagaimanakah mereka mengangkatmu (Muhammad) menjadi hakim mereka, padahal mereka mempunyai Taurat yang didalamnya (ada) hukum Allah, kemudian mereka berpaling sesudah itu (dari putusanmu)? Dan mereka sungguh-sungguh bukan orang yang beriman.
44 Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang mene-rangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.
45 Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.

Ayat-ayat yang penting ini adalah alasan mengapa orang-orang Yahudi tidak dapat dipaksa untuk menjadi seorang Muslim di dalam sebuah negara Islam! Mereka diijinkan untuk menghakimi masalah mereka sendiri berdasarkan hukum ilahi mereka sendiri. Alasan penting untuk prinsip hukum ini bisa ditemukan di dalam kesaksian Muhammad, yang mengakui di dalam tulisan Al-Qur'annya bahwa pada masa hidupnya hukum Perjanjian Lama yang tertulis di dalam Taurat memang sungguh-sungguh ada. Ia sendiri juga menegaskan bahwa ada petunjuk dan cahaya di dalam Taurat, dan juga bahwa ada penghakiman yang mencakup hukum dan hikmat, petunjuk dan rahmat. Ayat-ayat Al-Qur'an ini memiliki arti bahwa Allah menuntun orang-orang Yahudi dengan benar dan tidak membawa mereka kepada kesesatan. Mereka mendapatkan hak istimewa dan menikmati pilihan yang positif dari Allah, karena mereka memiliki buku yang diwahyukan oleh Allah. Mengapa kemudian orang Muslim berani menyatakan bahwa Taurat sudah dipalsukan?
Pengecualian untuk tunduk kepada Islam juga secara legal diterapkan bagi orang-orang Kristen:
46 Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi-nabi Bani Israil) dengan 'Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang di dalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.
47 Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah di dalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Surat al-Ma'ida 5:46-47).

Orang-orang Kristen yang hidup di negara-negara Islam harus menghafalkan kedua ayat di atas, karena keduanya menuliskan mengenai hak mereka untuk tetap menjadi orang Kristen. Tidak ada seorangpun yang secara legal bisa ditarik untuk menjadi Muslim.
Dasar dari hak pengecualian ini adalah karena Allah mengutus Isa untuk menegaskan kebenaran Taurat sebagai tanggungjawab terbesarnya (Matius 5:17-18). Ayat ini juga menyatakan bahwa di dalam Al-Qur'an Injil juga dianggap wahyu ilahi, yang disampaikan secara verbal yang mengandung petunjuk dan cahaya. Juga, kita membaca bahwa Injil yang diajarkan Kristus juga menegaskan Taurat di dalamnya.

Orang-orang Kristen di dalam ayat Al-Qur'an yang unik ini disebut sebagai umat Injil karena mereka sering mengutip dan membicarakan tentang Injil kepada Muhammad dan orang Muslim, dan berusaha untuk mempraktekkannya. Gelar kehormatan ini muncul hanya di dalam Surat ini dan menyebutkan orang-orang Kristen sebagai “Injil yang berjalan.”
Di dalam Surat yang sama (5:48) Muhammad membiarkan Allah menyatakan sebuah ayat khusus kepadanya:
48 Dan Kami telah turunkan kepadamu (Muhammad) Al Qur'an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya).

Orang Muslim percaya akan adanya sebuah kitab yang asli di surga, ibu dari semua kitab ilahi, yang darinya semua nabi menerima beberapa halaman. Dengan ayat ini Muhammad membiarkan Allah mengatakan bahwa Al-Qur'an menegaskan kebenaran Taurat dan Injil pada jaman Muhammad, dan bahwa Dia, Allah sendiri, menjaga firman-Nya sehingga tidak ada seorangpun yang bisa memalsukannya. Mungkinkah Allah tertidur ketika orang-orang Yahudi dan Kristen memalsukan Alkitab, seperti yang dikatakan oleh orang Muslim? Allah akan membuktikan bahwa orang-orang yang memiliki kecurigaan yang demikian adalah pendusta.
Di dalam Surat yang sama (5:68) Muhammad hampir tampil sebagai seorang “penginjil.” Ia menjadi marah ketika melihat bahwa orang-orang Yahudi dan Kristen tidak percaya kepadanya dan beberapa di antara mereka tidak hidup seturut dengan perintah di dalam kitab mereka:
68 Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu".

Di dalam ayat ini Muhammad menantang orang-orang Yahudi dan Kristen untuk mempelajari Taurat dan Injil dan menjalani kehidupan sesuai dengannya, untuk membuat rancangan dan menghukum sesuai dengan kitab mereka itu. Muhammad pada saat itu masih percaya bahwa semua kitab surgawi berasal dari sumber yang sama dan saling melengkapi. Ia tidak pernah berpikir bahwa Taurat dan Injil sudah dipalsukan; justru, ia memerintahkan umat dari kitab itu untuk melakukan semuanya itu di dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Seorang penginjil di Yordania menggunakan ayat ini, mengambil Alkitab dan mengangkatnya dengan tangan kanannya, dan berseru, sambil berjalan kesana kemari di sekitar gerbong-gerbong yang penuh dengan orang yang akan naik haji di peron Ma’an, “Tidaklah kamu berada di atas sesuatu (kebenaran) hingga kamu menegakkan (ajaran-ajaran) Taurat, Injil!” Penginjil itu menghilangkan kata-kata awal dan bagian akhir kalimat ayat itu dan mengundang agar orang-orang itu membeli Injil darinya. Tidak ada yang marah kepadanya karena ia memang mengatakan sebuah ayat ilahi yang tercatat di dalam Al-Qur'an!

Di dalam Al-Qur'an ada dua ayat lagi yang dapat menolong, tetapi jangan terlalu sering dipakai. Dalam Surat Yunus 10:94 Allah memerintahkan kepada Muhammad:
94 Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu.

Muhammad menyelidiki kebenaran alkitabiah dari orang-orang Yahudi dan Kristen, menghafalkan berita yang disampaikan secara lisan itu di dalam ingatannya, menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab yang baik dan mengulangi semuanya beberapa saat kemudian ketika ia dalam keadaan tidak sadar. Seringkali ia mengucapkan apa yang pernah didengarnya tetapi ia tidak bisa mengingat arti yang tepat dari kata-kata dan kalimat yang diucapkannya. Ia tidak menemukan jalan lain kecuali membiarkan Allah memerintahkan kepadanya untuk bertanya tentang semuanya itu kepada orang-orang yang memberitahukan tentang ayat-ayat Alkitab itu kepadanya, apa sebenarnya arti dari ucapan-ucapan yang dikatakannya. Bagaimana bisa orang Muslim mengatakan kalau Alkitab dipalsukan, kalau Allah dan Al-Qur'an memerintahkan Muhammad untuk kembali kepada orang-orang Yahudi dan Kristen agar mereka menjelaskan arti Al-Qur'an kepadanya, karena mereka itu sudah membaca kitab itu di hadapannya? Kita tidak boleh menjelaskan sendiri isi dari ayat ini kepada orang Muslim, tetapi menanyakan artinya kepada mereka apa arti yang sebenarnya sampai mereka mengerti dan mengakui apa sebenarnya makna yang ada di dalam ayat ini.

Dalam Surat al-Nahl 16:43 kalimat yang hampir mirip dikatakan kepada semua Muslim. Allah dipercaya mendiktekan ayat ini kepada Muhammad:
43 Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (tentang nabi dan kitab) jika kamu tidak mengetahui.

Muhammad mendorong orang Muslim untuk pergi kepada orang-orang Yahudi dan Kristen kalau mereka merasa ragu atas salah satu bagian dari Al-Qur'an, dan bertanya kepada mereka tentang Allah dan perintah-perintah-Nya. Tetapi Muhammad tidak menyuruh mereka pergi kepada sembarang orang Kristen atau Yahudi, tetapi hanya kepada mereka yang bisa mengucapkan wahyu di dalam Taurat dan Injil kata demi kata dari penghafalan.
Siapa pun yang ingin melayani di antara orang Muslim sebagai hamba Tuhan harus mempelajari bagian-bagian penting dari Alkitab di dalam bahasa mereka dengan menghafalkannya, termasuk nomor dari pasal-pasal dan ayat-ayat. Muhammad sendiri menyuruh orang Muslim pergi hanya kepada mereka yang bisa menyebutkan firman Allah tanpa membuka kitab itu.

Ada ayat-ayat yang lain di mana Al-Qur'an menegaskan kebenaran isi Alkitab. Kami ingin mengutip satu lagi wahyu Allah di dalam Al-Qur'an:
27 Kemudian Kami iringi di belakang mereka dengan rasul-rasul Kami dan Kami iringi (pula) dengan Isa putra Maryam; dan Kami berikan kepadanya Injil dan Kami jadikan dalam hati orang-orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih sayang. (Surat al-Hadid 57:27).

Muhammad menyaksikan beberapa kali bahwa orang-orang Kristen adalah yang paling bersahabat di antara orang-orang yang bukan Muslim, karena mereka memiliki perasaan santun dan kasih sayang kepada mereka. Pengalaman Muhammad ini terjadi ketika ia dengan keras teraniaya di Mekkah. Ia mengajak 83 orang Muslim untuk melarikan diri ke Ethiopia untuk mencari suaka. Mereka tidak dijadikan budak di sana tetapi justru menerima pertolongan dan kebebasan. Muhammad bertanya kepada dirinya sendiri bagaimana hal seperti ini bisa terjadi. Ia menemukan bahwa Allah sudah mewahyukan Injil kepada Isa dan menaruh belas kasihan, kasih sayang dan rasa iba dari Injil itu ke dalam hati orang-orang yang mengikuti Kristus dengan setia.
Muhammad mengakui ada yang luar biasa di dalam kehidupan orang-orang Kristen, tetapi tidak mengerti faktor apa yang membuat mereka menjadi orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi dan bahkan mau melayani dengan baik bahkan juga kepada musuh-musuh mereka. Jawabannya tertulis di dalam Roma 5:5b, di mana Paulus mengatakan: karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Muhammad tidak mengerti tentang hakekat Roh Kudus, tetapi ia bisa melihat buah-buah itu di dalam kehidupan para pengikut Yesus Kristus.
Ayat ini menunjukkan cara yang paling baik untuk menjelaskan kepada orang Muslim bahwa Alkitab tidaklah dipalsukan. Metode yang paling efektif tidak lain berupa belas kasihan dan kasih sayang bahkan kepada para musuh salib. Dengan kehidupan, doa, kesaksian dan pelayanan, kita bisa menjadi pemacu agar orang Muslim bisa mengakui bahwa Alkitab itu memang asli dan berkuasa. Kita semua membawa tanggungjawab yang sangat besar ini.

5. Kesaksian pengalaman orang Kristen!
Petrus mengakui: Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah (Yohanes 6:69; Matius 16:16). Kemudian, Petrus menguatkan kesaksiannya di dalam suratnya yang pertama: Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal (1 Petrus 1:23; Yohanes 1:13; 3:5).

Yakous, saudara Tuhan Yesus, mengkonfirmasikan pengalaman ini, dengan menuliskan: Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya (Yakobus 1:18).

Yohanes, yang termuda di antara para murid, memberi kesaksian: Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Hidup itu telah dinyatakan, dan kami telah melihatnya dan sekarang kami bersaksi dan memberitakan kepada kamu tentang hidup kekal, yang ada bersama-sama dengan Bapa dan yang telah dinyatakan kepada kami. Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamu pun beroleh persekutuan dengan kami. Dan persekutuan kami adalah persekutuan dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus (1 Yohanes 1:1-3).

Paulus menghilangkan segala ketidakpastian dengan mengatakan: Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani (Roma 1:16).
Penulis dari surat Ibrani mengatakan kepada kita: Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita (Ibrani 4:12).




Post by: Donny Sukma
Chinatsu Hayasida Mainsite
FORUM MURTADIN INDONESIA
Muslims for Christمسلمون للمسيح

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar