Sabtu, 12 Mei 2012

Okultisme dalam Keluarga Muhammad

By Dr. Rafat Amari
http://religionresearchinstitute.org/Mohammad/occultism.htm

Tulisan ini tidak untuk menjelek2kan keluarga Muhammad, tetapi hanya untuk menampilkan kebenaran tentang adanya okultisme dalam keluarga Muhammad, yang tercatat dalam literatur Islam. Kami akan memulai dengan kakek Muhammed, Abu Mutaleb, yang dikenal sebagai penyembah patung2 Asaf dan Naelah.

Apa agama Abdul Mutaleb yang sebenarnya ?

Asaf dan Naelah adalah dua Kuhhan, alias pendeta Jin-setan. Tradisi menyatakan bahwa dewa2 mengubah mereka menjadi dua batu, karena mereka melakukan perzinahan di dalam Kaabah di Mekah.Tugu Asal dan Naelah juga ditempatkan pada sumur Zamzam. Ibn Hisham, yang mengedit biografi tertua tentang Muhammad, mengatakan tugu2 ini disembah di sumur Zamzam. Katanya, para penyembah mengorbankan hewan korban bagi tugu2 tersebut di sana[1]. Hal ini membuat kita berpikir bahwa sumur Zamzam didedikasikan untuk menyembah kedua pendeta jin yang dilambangkan dengan tugu.

Mutaleb mendedikasikan sumur Zamzam dan tugu2 tsb kepada kedua pendeta jin. Kesimpulan ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, Abdel Mutaleb menggali sumur Zamzam.[2] Kedua, Abdel Mutaleb adalah salah seorang peyembah tugu kedua pendeta jin. Dia begitu termakan oleh pemujaan okultisme sehingga dia ingin mengorbankan salah satu dari anak laki2nya pada kaki kedua tugu di Zamzam. Anak laki2 tersebut adalah Abdullah, ayah Muhammad. Ketika Abdel Mutaleb sudah pada posisi untuk menyembelih Abdullah dengan pisaunya, saudara laki2 Abdel Mutaleb menyelamatkan anak itu.[3]

Konsep mengorbankan salah satu anak laki2 bagi jin, para pemimpin atau pendeta2 yang dihormati, tidak saja dikenal di jazirah Arab, tetapi juga di bagian2 lain dari dunia kuno. Bahkan sampai hari ini para penganut agama okultis mempersembahkan korban anak2 bagi setan. Fakta bahwa Abdel Mutaleb memilih untuk mengorbankan anaknya dihadapan kedua tugu tersebut mengungkapkan bahwa dia paling terikat dengan agama jin jazirah Arabia.

Abdel Mutaleb juga memiliki hubungan yang dekat dengan perwakilan agama jin di jazirah Arab, yaitu para pendeta yang disebut degnan Kuhhan, atau bentuk tunggalnya adalah Kahen/Kahin. Abdel Mutaleb berkonsultasi dengan Kuhhan kalau dia menghadapi persoalan. Mereka merupakan penasihat2nya, dan dia terbiasa mengadakan perjalanan jauh untuk dapat bertemu dan berkonsultasi dengan seorang Kahin terkenal. Ketika sebuah perselisihan antara suku Quraish dan Abdel Mutaleb terjadi karena sumur Zamzam, Abdel Mutaleb memilih seorang Kahinah terkenal dari agama jin untuk menetapkan persoalan. Kahinah ini adalah orang yang menunjuk dua Kuhhan yang berbahaya dari agama jin, Satih dan Shak’, untuk menjadi pendeta2 jin setelah kematiannya.[4] Al-Halabiyah/Halabieh mengatakan mengenai kedua Kuhhan jin tersebut :
Mereka adalah pimpinan Kuhhan dan mereka yang memiliki pengetahuan mengenai okultisme dan kependetaan bagi jin.[5]

Ibn Hisham menyebutkan mengenai Kahinah ini, ”Dia merupakan Kahinah dari Klan Saad Hutheim.” [6]

Ketika ada sebuah perselisihan diantara Abdel Mutaleb dan Bani/Klan Kilab, Abdel Mutaleb pergi kepada seorang Kahen Jin yang dipanggil Rabiah Bin H'thar al-Asadi untuk menjadi mediator.[7] Berkonsultasi dengan Kuhhan Jin adalah sesuatu yang dilakukan kakek2 Muhammed. Hisham, ayah dari Abdel Mutaleb, diketahui berkonsultasi dengan seorang Kahen utama dari suku Khuzaa’h.[8] Banyak contoh seperti ini menerangkan afiliasi keluarga dan pendahulu Muhammed terhadap agama jin di jazirah Arab.

Jika hal ini tidak cukup menyakinkan, dua lagi pertimbangan membuktikan bahwa Abdel Mutaleb adalah seorang pemimpin dalam agama Jin jazirah Arab. Ketika Abdel Mutalib mendedikasikan anak laki2nya Abdullah (ayah Muhammad), dia melakukannya melakui seorang Kahinah dibawah perintah jin yang berhubungan dengannya. Para penulis biografi Muhammad yagn paling dipercaya, termasuk Ibn Hisham, memberitahu kita bahwa Abdul Mutaleb membawa Abdullah kepada seorang pendeta jin wanita bernama Khutbah. Dia berdiam di kota Khaybar yang berlokasi di jazirah Arab tengah bagian Utara.[9] Ketika dia mengunjungi Khutbah, Abdel Mutaleb mengekspresikan kesediaannya untuk membunuh anak laki2nya jika pendeta wanita jin memerintahkannya. Adalah jelas bahwa anak2 yang lahir dalam para pengikut sekte2 okultis dikorbankan bagi roh jahat yang terhubung dengan medium atau pendeta dalam komunitas okultis. Roh tersebut bisa saja meminta anak untuk dibunuh sebagai korban bagi setan, atau pendeta2 bisa meminta orangtua sang anak mempersembahkan anjing2 atau binatang2 lain bagi roh jahat sebagai korban.

Jelaslah bahwa, dalam kasus Abdel Mutaleb, kami menemukan fenomena okultis yang sama yang dilakukan di antara beragam sekte2 okultis. Roh2 jin-setan menguasai nasib anak2 yang lahir di dalam komunitas okultis. Ini merupakan alasan banyak anak2 yang dikorbankan bagi setan.

Kami melihat dedikasi Abdel Mutaleb bagi system keagamaan yang diwakili Khutbah. Abdel Mutaleb siap untuk menaati keputusan jin-setan kepada siapa Khutbah menjadi medium dan seorang pendeta, dalam apapun yng jin putuskan terhadap anak laki2nya. Ibn Hisham melaporkan jawaban pendeta wanita jin yang diberikan terhadap permintaan Abdel Mutaleb: “Kembalilah kepadaku satu hari lagi di saat dia yang terhubung denganku mendatangiku.” [10] Dengan ini dia mengartikan jin-setan. Jin-setan mendatanginya dan memberitahunya bahwa unta2lah yang harus dikorbankan daripada Abdullah, yang menjadi ayah Muhammad.

Untuk mengetahui agama seseorang, ktia tinggal melihat kemana dia membawa anak2nya. Jika dia mendedikasikan anak2nya ke sebuah gereja, kita tahu dia seorang Kristiani. Jika dia mendedikasikan mereka ke dalam sebuah sinagoga Yahudi, kita akan yakin bahwa dia seorang Yahudi. Jika dia mendedikasikan mereka ke dalam sebuah kuil Sabian, maka dia adalah anggota sekte Sabian. Tetapi jika dia mendedikasikan anak2nya ke dalam sebuah upacara okultis oleh seorang medium atas perintah jin-setan, maka dia merupakan anggota sekte okultis. Itulah agamanya. Tidak jauh dari Mekah, ada banyak gereja2 Kristen, khususnya di dalam kota Najran. Ada juga banyak Synagoga di dekat Mekah, tetapi Abdel Mutaleb menghindari semua itu dan mendedikasikan anaknya melalui seorang Kahinah (pendeta jin wanita).

Hal lain untuk dipertimbangkan adalah keinginannya sendiri untuk mencarikan seorang istri bagi anak laki2nya dari kaum pendeta wanita jin. Dia memperkenalkan Abdullah pada banyak pendeta2 wanita muda jin. Dalam suatu peristiwa yang dilaporkan dalam buku Halabieh, yang berisi kehidupan Muhammad:

Ketika Abdel Mutaleb menemani anak laki2nya Abdullah dalam persiapan untuk menikah, dia menyetujui seorag Kahinah yang merupakan seorang pendeta wanita jin dari Tubbalah, sebuah kota kecil di Yaman. Nama wanita itu adalah Fatimah, anak perempuan Mural-Khathmieh الخثعمية.[11]

Pendeta2 wanita jin lainnya kepada siapa Abdullah diperkenalkan adalah Ruchieh Bint Naufal رقية. Dia juga seorang Kahinah pendeta wanita jin. Ibn Hisham, penulis biografi utama Muhammad, menunjukkan bahwa Abdel Mutaleb bertemu dengan Ruchieh di dalam Kaabah, yang membuat kita berpikir bahwa dia merupakan bagian dari fungsi2 okultis yang bertempat dalam Kaabah di Mekah.[12]

Akhirnya, Abdel Mutaleb memilihkan seorang istri untuk Abdullah. Dia adalah Aminah, keponakan Soda Bint Zehra, Kahinah utama jin di Mekah. Al-Halabi (dlm kitab Halabiyah) menyatakan bahwa alasan Abdel Mutaleb mengambil Aminah sebagai seorang istri untuk Abdullah adalah karena tantenya Soda Bint Zehra.[13] Abdel menginginkan kedekatan dengan pimpinan pendeta2 dan menganut suatu dedikasi dalam penyembahan jin yang dia wakili.

Sebuah tes yang penting pada level dedikasi seseorang dan keterikatannya kepercayaan keagamaannya adalah pasangan yang telah dia pilih bagi dirinya atau bagi anak laki2nya untuk dikawini. Jika dia puas dengan wanita manapun dalam sekte tersebut, kita boleh menganggap dia seorang pengikut biasa dalam system keagamaannya sendiri, tetapi jika dia mencari istri2 hanya di antara wanta2 yang berdedikasi pada agamanya dia bukan lagi seorang pengikut biasa dalam agamanya, dan menjadi seorang aktivis dan seorang fanatik. Dia menunjukkan bahwa dia berkeinginan untuk mempromosikan agama tersebut dengan membangun sebuah keluarga yang secara total didedikasikan padanya, jadi bahwa keluarga demikian mungkin mempunyai suatu peran kepemimpinan dalam system keagamaannya.

Ini membantu kita melihat keterikatan pada agama dari orang yang menggali sumur Zamzam, dam memberi kita tujuan mana dia menggali sumur tersebut. Merupakan suatu kebiasaan bagi orang2 Arab untuk menggali sebuah sumur dan mempersembahkannya pada dewa2 yang mereka sembah dan hormati. Fakta bawa Abdel Mutaleb menggali sumur Zamzam dan mendirikan dua tugu batu pendeta jin, Asaf dan Naelah, di atas sumur, cukup untuk menyakinkan kita sifat alamiah agamanya dan fanatisme untuk mempromosikan itu. Karena dia mempertimbangkan untuk membunuh anak laki2nya dihadapan kedua tugu tersebut, mengindikasikan bahwa penyembahan jin jazirah Arab merupakan agama utamanya dan dia sepenuhnya mendedikasikan dirinya.

Literatur yang memberikan kita latar belakang kehidupan orang2 Arab pada masa Muhammed, menyebutkan kebiasaan beberapa orang2 Arab untuk mempersembahkan korban2 kepada jin-setan setelah mereka menggali sebuah sumur.[14] Fakta bahwa Abdel Mutaleb mendirikan kedua tugu pendeta2 jin di atas sumur Zamzam dan bahwa dia siap untuk membunuh anak laki2nya di kaki tugu2 ini, mengindikasikan bahwa dia ingin memberikan korbah kepada jin dan bahwa dia menggali sumur Zamzam untuk suatu ekspresi yang bertujuan memuliakan penyembahan agama jin jazirah Arab.

Betapa ironisnya bagaimana hal itu menghubungkan tempat okultis ini dengan nabi Ibraham ! Kaum muslim masa kini tidak menerima keuntungan apapun dengan mengadakan perjalanan begitu jauh untuk meminum air dari sebuah sumur seperti yang ada pada Zamzam. Mereka juga tidak mendapatkan keuntungan apapun dengan melaksanakan ritual2 dari system okultis pagan ini.

AMINAH, Ibu Muhammed

Aminah adalah keponakan perempuan Soda Bint Zehra, pendeta jin di Mekah. Kita melihat bahwa alasan Abdel Mutaleb mengambil Aminah sebagai istri bagi Abdullah adalah karena tantenya Soda Bint Zehra.[15]

Muhammed diketahui menderita kerasukan sejak masa kanak2nya karena Aminah, ibunya, melakukan rukhieh atasnya atau guna2.[16] Dalam rukhieh seorang kahen membawa roh jin (yang berhubungan dengan si kahen) kepada seseorang. Seabgai keponakan Soda Bint Zehra, Aminah mampu melakukan ritual okultis
terhadap Muhammad. Hanya Kuhhan jazirah Arab yang dapat melakukan ‘rukhieh’ yang tepat, sebuah praktek perdukunan yang mengindikasikan bahwa ibu
Muhammad telah bergabung dengan jajaran Kuhhan jazirah Arab setelah tantenya meninggal dunia.

Anak2 atas siapa suatu “rukhieh” dilakukan menderita berbagai tanda seperti : kesurupan dan kejang2. Sejak masa kanak2nya, Muhammad menderita
berbagai gejala yang identik ini. Al-Halabi, seorang penulis biografi Muhammad, menyebutkan bahwa Muhammed menderita kejang2 sejak dia berumur satu
tahun.[17] Sahih Al-Bukhari, melaporkan suatu peristiwa di mana Muhammad muda kesurupan sebelum ia mengklaim menerima Quran.[18] Literatur Islam lainnya, seperti Halabieh, menyatakan bahwa Muhammad biasanya berada dalam kondisi koma sebelum ia menuliskan Quran, yang mana secara jelas mengungkapkan keterlibatan langsungnya dengan para Kuhhan. Ketika dia mulai menerima Quran dia jatuh koma.[19] Para antropologis percaya bahwa
kependetaan yang melayani setan diteruskan dari individu yang satu ke individu lainnya dalam keluarga yang sama.[20]

Abu Taleb

Juga sangat penting adalah peran Abu Taleb, paman Muhammed, kepada siapa Muhammed datang dan tinggal setelah kakeknya, Abdel Mutaleb, meninggal.

Ayah Abu Mutaleb mempunyai suatu fanatisme yang khusus terhadap agama jin jazirah Arab dan mewariskan ini pada anak laki2nya. Sebagai anak laki2
seorang pemimpin dalam agama jin jazirah Arab, Abu Taleb memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para ahli nujum, peramal, peramal nasib dan lainnya yang mempraktekkan guna2; Abu Taleb biasanya secara teratur berkonsultasi dengan orang2 demikian. Ibn Hisham, penulis biografi Muhammed yang paling dipercaya, menyebutkan bahwa Abu Taleb biasa berkonsultasi dengan seorang ahli nujum yang bernama Lahab bin Auhjun bin Kaab لهب بن أحجن بن كعب , dari suku Uzd. Ibn Hisham menyebutkan bahwa Abu Taleb biasa membuat keponakannya Muhammed terpapar atas nasehat2 dari Lahab.[21] Tidak mengherankan bahwa Muhammed menderita mimpi2 buruk dalam rumah Abu Taleb, dan Abu Taleb sendiri menderita akibat pengaruh jin-setan, mengalami fenomena paling berbahaya dan hebat, yang mana biasanya terjadi di dalam rumah2 para penyembah setan. Di antara tragedy terburuk yang menimpa Abu Taleb adalah bahwa jin-setan mengambil anak laki2 tertuanya, Taleb, dan dia tidak pernah ditemukan.[22] Hal yang terjadi pada Taleb ini diketahui didalam bidang ilmu
demonology: ketika seseorang kerasukan setan, seringkali orang itu akan melakukan tindakan bunuh diri yang didorong oleh setan, seperti melemparkan dirinya ke dalam api atau ke dalam sumur yang penuh air. Aktivitas2 setan2 yang sangat berbahaya di dalam rumah Abu Taleb, dimana Muhammed tumbuh besar, terlihat dalam fakta yang lain: anak laki2 Abu Taleb lainnya, dipanggil Ja’efer, terkena pengaruh oleh apa yang orang2 Arab sebut sebagai "Ain al-Jinn", yang berarti “mata jin”. Orang2 Arab pada masa Muhammad mengenali gejala2 kerasukan setan yang hebat, sebagai gejala2 yang disebabkan oleh mata jin yang berefek secara negatif pada orang tersebut yang menderita gejala2 demikian. Ini adalah gejala2 yang menjangkiti Muhammea, utamanya: kejang2, kesurupan dan koma. Kaum Arab mengenali kesurupan sebagai masalah yang disebabkan oleh setan. Mereka menyebutnya “masalah melalui Ain,” atau mata. Mata jin melihat pada seseorang dan mengakibatkan kesurupan.[23]


Ibu Ja’efer memberitahu Muhammad – setelah Muhammad mengklaim sebagai seorang nabi -,”Hai rasulullah, anak laki2ku Ja’efer terjangkit oleh ‘Ain al-Jinn,’ akankah kami membuat baginya suatu rukhieh?''. Muhammad mengatakan : Ya.” [24] Rukhieh adalah pembacaan mantera2 bagi seseorang yang terjangkiti oleh jin-setan. Para penganut agama jin-setan di jazirah Arab percaya bahwa jin-setan lainnya, yang lebih kuat daripada yang menyebabkan gejala2 " Ain al Jinn ", mampu mengusir jin dari tubuh tersebut. Muhammad dalam kasus ini setuju bahwa sihir demikian harus dilakukan terhadap sepupunya Ja’efer. Seperti yang akan kita lihat bahwa Muhammad sendiri, sebelum klaimnya sebagai seorang nabi, diketahui sebagai seorang Rakhi راقي, orang yang melakukan Rukhieh terhadap yang lain.

Dari contoh2 ini, kita dapat membayangkan lingkungan okultis berbahaya dimana Muhammad melewatkan masa kecilnya; dia tinggal disebuah keluarga yang didominasi jin-setan dan anggota2 mereka yang kerasukan setan dengan konsekwensi2 terburuk! Semua ini berkenaan dengan hubungan mereka dengan ahli nujum, penyihir, peramal dan medium.

Jadi, hubungan dekat Muhammad dengan jin, episode2 penyakit jinnya, dan kenaikan dirinya menjadi seorang Rukhi bertumbuh dari akar dalam okultisme keluarganya. Semua keterlibatan okultisnya dimulai dengan ibunya Aminah yang membacakan mantera2 padnya ketika masih kecil, berkembang dalam intensitas dalam rumah Abu Taleb, dan terus menerus meningkat sampai dengan masa kenabiannya. Bahkan paman Muhammed, Abu Taleb, menyebarkan kebenaran dalam syairnya sendiri bahwa Muhammad menjadi seorang Rakhi, seseorang yang membacakan mantera terhadap orang lainnya. Faktanya, Ibn
Hisham, menulis syair yang terkenal, ”Abu Taleb.” Para pemimpin Mekah mendatangi Abu Taleb meminta dia untuk menyerahkan Muhammed kepada mereka untuk dihakimi oleh mereka. Abu Taleb menolak dan membacakan sebuah syair yang memuji dan mengagumi Muhammed. Ada sebuah stanza dalam syair ini yang mana dia menggambarkan Muhammad sebagai “seorang Rakhi, atau penyihir yang membacakan mantera2 di Harra di mana dia hidup."[25]


Harra’ adalah kumpulan gua di dekat Mekah di mana Muhammad biasa menghabiskan waktunya sebelum dia mengklaim dikunjungi oleh malaikat Jibril.

Bagi Abu Taleb dan dimata orang Arab, para tukang sihir atau rakhi melakukan sebuah pekerjaan mulia karena reputasi yang dimiliki rakhi2 untuk mengusir roh2 yang menyebabkan penyakit melalui jin mereka sendiri. Muhammad mengkonfirmasikan bahwa pamannya membacakan syair mengenai dirinya dan membanggakan tentang isinya.[26]

Muhammed terlahir dari suatu jalur panjang penyembah jin yang menganggap pembacaan mantera2 dan guna2 adalah suatu kemampuan hebat dan bukanlah
sebuah kutukan dan kejahatan sebagaimana diajarkan Injil.


Khadijah, Istri Pertama Muhammad dan sepupunya Waraqa

Khadijah, istri pertama Muhammed, berasal dari sebuah keluarga pemimpin okultis yang terkenal. Diantara mereka adalah Ruchieh, seorang Kahinah jin-setan di Mekah. Ruchieh adalah saudara perempuan Waraqa bin Naufal,[27] pendeta Ebionite okultis yang merupakan sepupu Khadijah. Waraqa/Warakah, adalah figur pemimpin dalam kaum Ahnaf. Dia biasa melakukan Tahnuf, yi dia menghabiskan waktunya dalam gua2 di Harra’, memisahkan dirinya dari masyarakatnya selama beberapa bulan pada satu masa. Praktek2 seperti ini umum diantara kaum bida’ah, sebagaimana kita belajar dari pemimpin spiritual orang Kristiani awal. [28]), dan diketahui diantara para pemimpin sekte2 okultis. Khadijah biasanya melakukan Tahnuf pada gua2 yang sama.

Waraqa adalah orang yang menyakinkan Muhammad untuk menjadi seorang nabi. Setelah kembali dari gua di Harra’ (gua Hira), Muhammad ketakutan. Dia memberitahu istrinya bahwa suatu roh mengklaim sebagai Jibril muncul kepadanya dan mencekiknya tiga kali. Muhammad diyakinkan setelah pertemuan ini bahwa dia memiliki setan dalam dirinya. Tetapi Khadijah bersikeras bahwa Muhammad adalah calon nabi. Menarik untuk dicatat bahwa ketika malaikat2 muncul dalam Injil, mereka tidak pernah membuat siapapun ketakutan atau memaksakan peran kenabian pada siapapun.

Sebelum bertemu Muhammad, suami pertama Khadijah adalah Nabash Bin Zarareh Bin Wakdan/Waqdan نباش بن زرارة بن وقدان , seorang komunikator dengan jin. Jin muncul pada Nabash dalam bentuk orang tua untuk memberinya informasi[29]. Abu Bakar adalah murid paling penting Nabash. Abu Bakar tetap merupakan teman dekat Khadijah setelah suaminya meninggal dan dengan antusias menurutinya ketika dia mengumumkan Muhammad adalah nabi. Sebagai seorang istri komunikator jin, Khadijah mendapat prestise, karena banyak orang2 Arab berkonsultasi dengan suami pertamanya ini dan memberi mereka uang. Ini juga menjelaskan mengapa Khadijah kaya. Dia memiliki karavan yang membawa barang2 dari Syria ke Mekah. Setelah kematian Nabash, dia mempekerjakan Muhammed dalam karavan2nya, kemudian menikahinya, walaupun Muhammed duapuluh tahun lebih muda daripadanya.

Setelah pengalaman2 negatif yang membuat Muhammed depresi, Khadijah mengirimnya pada sepupunya, Waraqa, untuk menyakinkan dia bahwa Muhammad
seorang nabi Allah. Waraqa berhasil dalam tugasnya dan bertanggungjawab atas mayoritas ayat2 Quran pada permulaan. Waraqa menyelipkan doktrin2
Ebionit mengenai Yesus dalam Quran, menyatakan bahwa Yesus adalah seorang nabi dan dia tidak disalibkan, tetapi Tuhan menggantikan Yesus dengan orang lain. Orang itu disalibkan karena orang banyak mengira dia adalah Yesus. Doktrin ini pertama kali dibuat oleh Simon, tukang sihir dari Samaria, yang kemudian mendirikan suatu aliran bida’ah dengan namanya, Simonisme. Kenyataannya, Simon menciptakan akar untuk doktrin demikian, sebelum dikembangkan oleh kaum Gnostic kemudian. Disini, saya menampilkan pemikiran Simon sang tukang sihir mengenai Yesus, yang dilaporkan oleh Hyppolytus dalam “Penyangkalan dari Semua Kaum Bida’ah”:

Yesus Kristus, yang ditransformasikan dan diasimilasikan pada para penguasa dan kekuasaan dan malaikat, datang bagi pemulihan. Dan ia muncul sebagai manusia, padahal dia bukan seorang manusia. Dan (demikianlah) sepertinya dia menderita, walaupun tidak sesungguhnya menjalani penderitaan, tetapi kelihatan oleh orang2 Yahudi seperti demikian.[30]

Pemikiran bahwa orang2 menyalibkan seseorang pengganti Yesus dianut oleh beberapa kaum penganut kepercayaan bida’ah yang diketahui memiliki nilai2 yang tidak bermoral, seperti seks bebas dan berhubungan dengan okultisme. Waraqa termasuk ke dalam salah satu dari sekte2 sesat ini. Waraqa adalah salah satu pendiri kelompok yang disebut kaum Ahnaf/Hanafi. Pada narasi pertama kehidupan Muhammad, oleh Ibn Hisham pada abad 8 M, kita baca:

Kaum Honafa’, atau kaum Ahnaf, adalah sebuah kelompok kecil yang dimulai dengan kesepakatan empat pengikut Sabian di Mekah. Mereka berempat adalah Zayd bin Amru bin Nafil, Waraqa bin Naufal, Ubaydullah bin Jahsh, dan Uthman Bin al-Huwayrith.[31]

Keempat pendiri Ahnaf semuanya berkerabat dengan Muhammad. Mereka adalah keturunan Loayy, salah satu nenek moyang Muhammad. Lebih jauh, Waraqa bin Naufal dan Uthman Bin al-Huwayrith adalah sepupu2 Khadijah. Kita mengetahui ini dari genealogi Muhammad yang ditampilkan oleh Ibn Hisham.[32]

Ubaydullah Bin Jahsh adalah sepupu Muhammed dari pihak ibu. Muhammad menikahi jandanya, Um Habibah.Semua ini mengungkapkan hubungan yang dekat antara Muhammad dengan pendiri2 kelompok itu.

Kelompok ini tidak dikenal diluar Mekah, tetapi Umayya bin Abi al-Salt adalah sepupu Muhammad dari pihak ibu. Dia tinggal di kota Taif. Kita mengetahui banyak orang bergabung dengan mereka. Mereka berasal dari agama2 yang berbeda dan maka memiliki beragam doktrin. Setiap agama mengandung beberapa bentuk politheisme, paganisme dan okultisme. Ini membuat mereka kelompok yang paling diragukan dalam sejarah untuk mengklaim bahwa mereka mempromosikan kepercayaan yang diajarkan Ibraham dan nabi2 lain dalam Perjanjian Lama. Menggelikan sekali bahwa Muslim percaya bahwa kelompok pagan ini mewakili kepercayaan yang benar dan saleh.

Mitos2 yang mereka percayai dan dimasukkan ke dalam syair2 mereka juga dituliskan ke dalam Quran karena Muhammad berasal dari kelompok tersebut. Dia membanggakan bahwa dia mempercayai dogma mereka dan dia diketahui mempunyai hubungan2 dengan banyak anggota kelompok ini. Dia dipengaruhi oleh ajaran2 mereka, juga oleh konsep2 tidak bermoral dan penggunaan slogan2 seks untuk menarik masyarakat kepada mereka, seperti sebuah surga seks bebas. Semua ini merefleksikan afiliasi dalam Muhammad pada kelompok ini. Muhammad menggunakan pemikiran2 mereka. Dalam Quran kami juga menemukan pemikiran yang sama.

Yang tidak diketahui adalah apakah kelompok ini menyebut diri mereka Honafa’ atau Ahnaf, atau apakah mereka disebut ini oleh masyarakat setempat.
Tetapi mereka mengetahu istilah itu memiliki sebuah arti negatif dan merefleksikan tindak tanduk negatif. Kata hanif berarti “kejam, kurang pergaulan, ngawur, tidak adil, dan penuh dosa.” Kata Arab diambil dari kata sifat, hanafa, yang berarti menjadi kejam. [33] Walaupun quran enyampaikan sebuah arti positif untuk arti hanif sekarang, pada masa hidup muhammad artinya lain sekali.

Jawad Ali, cendekiawan Irak, mengatakan, ”Kaum Hanaf telah sesat dari jalan yang benar.” Jawad Ali mengutip banyak penulis islam kuno yang menegaskan bahwa demikianlah arti dari hanif pada masa hidup muhammed.[34]. Menurut Jawad Ali, kata tersebut juga berasal dari sebuah kata Aram yang berarti “tidak bertuhan, naïf, munafik, kafir atau sesat.”[35] Ini berarti bahwa pastilah anggota kelompok tersebut tidak menamakan dirinya demikian tetapi diberi nama oleh masyarakat Mekah, komunitas di mana mereka berdiam. Jelaslah, bahwa mayarakat Mekah mengamati perilaku tidak bermoral dan kesesatan yang mereka praktekkan.

Reputasi tidak bermoral kaum Hanafi dan pengaruhnya pada Muhammad

Tingkah laku mereka yang tidak bermoral terlihat dari puisi yang ditulis mereka sendiri, seperti sebuah puisi yang ditulis oleh Waraqa, salah satu dari empat pendiri kelompok tersebut. Dia membanggakan pengalaman dirinya memperkosa seorang gadis di rumah sang gadisitu dan menikmati hubungan sex tersebut. Di dalam puisinya, dia menyarankan orang agar menikmati pengalaman2 seperti itu [36].

Ide2 tidak bermoral Waraqa meninggalkan pengaruh sangat istimewa pada muhammad. Ketika Waraqa meninggal. Penulis2 biografi Muhammad mengatakan “inspirasi menjadi tenang atau memudar.”[37] Karena ini, Muhammad ingin melemparkan dirinya berkali2 dari sebuah gunung. Para periwayah tidak sepakat mengenai durasi periode demikian dalam mana ia mencoba membunuh dirinya. Ada yang mengklaim empat puluh hari, yang lain mengatakan tiga tahun. [38] Butuh waktu sebelum Muhammad menemukan sumber2 lain bagi wahyu2nya.

Banyak Kuhhan agama jin di jazirah arab merupakan bagian dari kelompok kaum Ahnaf. Kaum Ahnaf menggunakan syair prosa seperti Kuhhan jin-setan jazirah Arab.[39] Mereka terbiasa memiliki hubungan dengan jin-setan dan mereka mengklaim setan2 tersebut adalah penolong2 yang berguna dan agen2. Diantara pemimpin2 kaum Ahnaf yang berkomunikasi sangat dekat dengan jin-setan, adalah Ummia bin Abi al-Salt, sepupu dari pihak ibu Muhammad. Setan biasanya mengajar dia hal2 keagamaan, seperti : ”Bismika allahumma," yang mana berarti : ”Dalam namamu Allah adalah mereka.” [40] Jelaslah bahwa setan2 di jazirah Arab melatih kelompok Ahnaf untuk menghadapi dan menantang Kekristenan, yang tersebar di jazirah Arab dalam masa abad keenam. Kemudian, Muhammed mengadopsi istilah yang sama.

Kaum Ahnaf menggantikan malaikat2 dengan jin sebagai agen2 yang berguna, mengklaim bahwa Sulaiman dan nabi2 lain dalam Bible memiliki jin-setan dalam pelayanan mereka. Mereka mengklaim ini untuk membenarkan hubungan okultisme mereka dengan setan2, seperti si Ummia. [41] Muhammad mengikuti jalan yang sama, mengatur ritual2 okultis dengan jin, membanggakan hubungan demikian, dengan pembenaran bahwa jin-setan telah menjadi Muslim. Dalam Quran, Muhammed kemudian menjiplak ajaran2 kaum Ahnaf bahwa bahkan Sulaiman memiliki jin-setan dalam pelayanannya.

Studi mengenai keluarga dimana Muhammad lahir dan dibesarkan, menunjukkan bahwa itu adalah sebuah keluarga yang didedikasikan pada okultisme dan hubungan dengan jin-setan. Banyak anggota2 keluarga terlibat dalam kepemimpinan agama jin di jazirah Arab sebagai Kuhhan, atau medium2 jin-setan. Kesimpulan ini tidak melalui spekulasi, tetapi mengandalkan sumber2 Islam yang sangat dipercaya Muslim sebagai sahih dalam mengetengahkan sejarah sejati Muhammad; seperti Ibn Hisham dan cendekiawan2 sejarah yang penting lainnya. Keterlibatan keluarga Muhammed dalam okultisme orang2 Arab menjelaskan kedekatan hubungan Muhammad dengan jin-setan; walaupun ada fakta bahwa dia mencoba mencari pembenaran hubungan okultis demikian dengan pembenaran bahwa jin-setan telah menjadi kaum muslim.

Bagaimana mungkin, kemudian, Tuhan yang Kudus, yang membenci praktek2 okultis seperti apa yang dilakukan keluarga Muhammad dan Muhammad sendiri, memilih seorang nabi dari antara mereka ?


Religion Research Institute -Home
________________________________________
[1] Ibn Hisham, I, page 69
[2] Ibn Hisham, I, pages 117 and 118
[3] Ibn Hisham, I, page 126; Halabieh, I, page 58
[4] Halabieh, I, page 121
[5] Halabieh, I, page122
[6] Ibn Hisham, I, page 119
[7] Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, 3, page 133
[8] Al-Nuwayri, Nihayat al-arab fi funun al-adab, 3, page 123
[9] Ibn Hisham I, pages 126 and 127
[10] Ibn Hisham, I, page 126; Halabieh, I, page 58
[11] Halabieh, 1,63
[12] Ibn Hisham, I, page 128
[13] Halabieh, I, pages 73 and 74
[14] Al-Lisan, 13, page 213 ; quoted by Jiwad Ali, al-Mufassal, vi, page 720
[15] Halabieh, I, pages 73 and 74
[16] Halabieh, 1, page 75
[17] Halabieh, 1, page 98
[18] Sahih al-Bukhari, 1, page 96
[19] Halabieh, 1, pages 406-407
[20] Demonolgia , a discourse on Witchcraft, pages 32-33
[21] Ibn Hisham, 1 page 147, see also the foot note in the same page.
[22] Halabieh 1, pages 101 and 432
[23] Taj al-Arus, 5, page 381
[24] Halabieh 1, pages 407
[25] Ibn Hisham, 1 pages 189 and 218
[26] Ibn Hisham, 1 page 225
[27] Ibn Hisham 1, page 128
[28] Hyppolytus, The Refutation of all heresies, book VIII , Chapter XIII
[29] Ibn Darid, Al-Ishtiqaq, pages 88 and 89
[30] Hyppolytus, The Refutation of All Heresies, book VI , Chapter xiv
[31] Ibn Hisham 1, page 242: quoted by Jawad Ali, vi, page 476
[32] Ibn Hisham, first part ; pages 63 and 76
[33] Al-Munjed, Arabic dictionary, page 158
[34] Jawad Ali, al-Mufassal, vi, page 451
[35] Jawad Ali , al-Mufassal, vi, page 454
[36] Al Asbahani, Al-Agani 3, page 118
[37] Sahih al-Bukhari, 1, page 4
[38] Halabieh, I, page 421
[39] Jawad Ali, al-Muffassal Fi Tarikh al-Arab Khabl al-Islam, 6, page 461
[40] Al-Dumeiri, Al-Hawan, 2, page 195; quoted by Jawad Ali, al-Muffassal Fi Tarikh al-Arab Khabl al-Islam, 6, page 484; al- Aghani, 4, page 122
[41] Ibn Kathir, Al-Bidaya wa al-Nihaya 2, page 227; quoted by Jawad Ali, al-Muffassal Fi Tarikh al-Arab Khabl al-Islam, 6, page 481

Tidak ada komentar:

Posting Komentar